Sekelibat Napas Yogyakarta
Saat itu, aku beranjak lagi dari kasur, kembali mengembara di jalanan Yogyakarta bersama temanku. Jalan Kaliurang, Jalan Jenderal Sudirman, setiap denyutnya, anginnya, dan derik cahaya sore yang merambat lurus tak berkelok saat deru motor merambah menyelip.
Aku melewati sekolahmu lagi. Rasanya, seperti menapakimu di setiap detiknya, merasakan langkahmu di setiap pagi saat kamu menuju sekolah atau saat kamu terkikik dengan teman-temanmu. Suaranya melesat jauh di dalam telinga, lalu tiba-tiba meledak dan pudar saat aku memalingkan wajah menatap jalanan yang merayap. Aku tercelus, mataku bernapas di antara harapanku sesekali bertemu denganmu lagi.Saat malam menghujani deretan rumah padat di bawah jembatan-jembatan berukir semen hijau, aku harus kembali ke rumah. Lampu-lampu di bawah sana redup, jalanannya kelam dan sempit, namun di sini gemerlap malam mengepulkan jantung kota yang tak berhenti berdetak. Kendaraan berdengung tanpa henti. Bagaikan berada di tepi dunia yang berbeda.
Angin masih terselip di antara rajutan kardigan wolku, meresap jauh di dalam kulit pipi dan tulang jemari. Aku berbelok ke kiri dari Jalan Brigjen Katamso, mengitari bangunan seputih kertas yang kokoh dan memakan pertengahan jalan menuju Alun-Alun Utara. Di sana, malam mendiamkan jiwa-jiwa yang lelah bercakap. Langit Ramadhan membawa semua orang melangkah ke masjid. Angin rasanya berhenti sejenak, manusia tak terlihat menjadi serpihan semu yang melayang tanpa arah di sini. Alun-alun dibiarkan terpagar dengan rerumputan meninggi dan dua pohon beringin di sini justru dikandangkan. Tak ada suara, lebih sunyi di bagian sini.
Kami lalu melesat mengitari alun-alun dan semuanya kembali seperti semula. []
Senin, 3 Mei 2021
h.h.
Komentar
Posting Komentar