Postingan

Sekelibat Napas Yogyakarta

  Saat itu, aku beranjak lagi dari kasur, kembali mengembara di jalanan Yogyakarta bersama temanku. Jalan Kaliurang, Jalan Jenderal Sudirman,  setiap denyutnya, anginnya, dan derik cahaya sore yang merambat lurus tak berkelok saat deru motor merambah menyelip. Aku melewati sekolahmu lagi. Rasanya, seperti menapakimu di setiap detiknya, merasakan langkahmu di setiap pagi saat kamu menuju sekolah atau saat kamu terkikik dengan teman-temanmu. Suaranya melesat jauh di dalam telinga, lalu tiba-tiba meledak dan pudar saat aku memalingkan wajah menatap jalanan yang merayap. Aku tercelus, mataku bernapas di antara harapanku sesekali bertemu denganmu lagi. Saat malam menghujani deretan rumah padat di bawah jembatan-jembatan berukir semen hijau, aku harus kembali ke rumah. Lampu-lampu di bawah sana redup, jalanannya kelam dan sempit, namun di sini gemerlap malam mengepulkan jantung kota yang tak berhenti berdetak. Kendaraan berdengung tanpa henti. Bagaikan berada di tepi dunia yang berb...

Bittersweet

  I have recently figured something out I should have been honest to myself from a very long time ago. It is about a feeling that stays grounded at the bottom of my heart. It is not hot, nor is it cold. It is not a mourn, nor is it a gratitude. A feeling where there are not blacks and whites, even when your hands take and give – a flip of one human action. It is bad…. yet it is meant to be. I stand still and am stuck in between. I am on a borderline, one side penetrates and another radiates. Maybe it is a feeling of being a human. Our Yin and Yang. Our indefinite reality. Yet it is something most of people would feel vulnerable for. We have seen myriad murders, suicides, briberies, unscrupulous critics, predicted delinquencies, and filthy lives of people we have never really met. And I believe, there is always something that we can’t control. The way those people perceive, feel, and put faith for. They are just as numb as bluish color of tied rubber band at the tip of your fi...

Berjarak Setahun

        Waktu itu rasanya aku hanya bergeming. Rasanya konyol juga kalau harus menyingkap seseorang yang bahkan batang hidungnya saja tak pernah muncul bercerita. Tapi dari jauh sini, diamnya seperti sejumlah kata yang tumpah seakan berbicara. Diamnya mengatup senyumku untuk mengerti, bahwa dia orang yang sama yang aku temui setiap pagi di sana. Atau terkadang, aku bertemu dengannya di jalan paling sempit berhimpitan dengan manusia-manusia asing saling bergandengan, gegap gempita. Lucu juga kalau mengingat, ada hal yang akan aku sampaikan kalau langkah kita yang sebelumnya paralel menjadi mengerucut. Tapi ternyata dalam setahun, asa berubah jadi senyap, bahkan langkahku sempat tercelus karena berat. Dia berada di sana, dalam seratus potret yang rasanya bersuara keluar-masuk mata yang tak henti-hentinya berkedip: setengah kecewa, setengah tertawa. Setengah tahu bahwa semua sudah ada pada tempatnya, tapi setengahnya lagi tak berpeta. Pada akhirnya, aku lagi yang harus ...

When Breath Becomes Air

Gambar
Hey, it's been awhile, well... So I captured these 2 pictures to present you an overview of this book. Yes, it's a spoiler. But, I'm just going to tell you the minimum amount of the story within this book, and even the slightest synopsis. This book tells us about a medical doctor named Paul Kalanithi (the author; so this is basically an autobiography book), who suffers stage IV cancer. Yes, that's eventually the synopsis. But, what I want to emphasize is not the way that we will have certainly read it with sympathy, but the way that we will perceive the emotions. This book is one of the memorable books I've ever read and that doesn't mean nothing. It means, every word included in this book is written with a bunch of feelings. A.K.A I cried in the end. It's not some kind of catastrophic sickness story, it gives you more than you think. It gives you an infinite meanings of how to live. It gives you space to contemplate that the time that rouses...

Ketika Mata Itu Tersenyum

Kadang kala, ketika dua insan bertemu, mereka menyapa. Suatu saat, mereka akan merasakan kehadiran satu sama lain dan berbicara. Kata per kata yang terucap terkadang terikat, terkadang terlepas. Suara yang mengayunkan nada di masing-masing telinga hanya kandas di tengah noda yang terbilas tanah. Ketika suara itu hilang, atau ketika suara itu hanya senyap terdengar, mereka pergi. Atau suatu hari, dua insan saling bertemu kembali. Mereka tidak menyapa, namun mereka berjanji tanpa arti. Salah satunya berucap inilah makna dari sebuah alunan lembut tanda mereka bergembira. Salah satu memegang ikrar suatu saat dia akan bergerak di antara gerai angin yang tersapu langit siang dan malam. Kalimat itu tersimpan lebih keras ketika malam tiba, namun terdengar rintih ketika pagi kembali. Namun, ketika langkah keduanya mulai beriak, semua mulut akan tertawa, seakan puas terhadap malam yang dengan gegabah menjadi sunyi. Di antara mereka, ada satu yang terasa lugu dan merasa tertendang halus oleh wa...
Gambar
This is Aquilo. Aquilo is my recent favorite Indie singers. And actually their songs are very good. Maybe it's because they serve landscape that's straightly related to the song. What a dreamy melody. I recommend you to listen to their songs.

Autour de Moi

Gambar
Yess, recently I've been listening to a korean band called Day6.  It's not that I'm one of those fanatic K-Pop lovers. But I think genuinely that this band is a shenanigan for your favorite korean dancing boybands. In  the other words that this band IS NOT DANCING!! 💘😪😪😊😊😊😇 They play instruments. And their songs are really worth to listen. Because they are kind of like, western songs instead of korean, but of course in korean language 😁  I've heard many American youtubers reaction of this  band. And they were not underestimating this band, they supported them instead.                                                                            But I can't recommend you any songs of them, because we have different ears, you know, different ways to absorb the m...