Sekelibat Napas Yogyakarta
Saat itu, aku beranjak lagi dari kasur, kembali mengembara di jalanan Yogyakarta bersama temanku. Jalan Kaliurang, Jalan Jenderal Sudirman, setiap denyutnya, anginnya, dan derik cahaya sore yang merambat lurus tak berkelok saat deru motor merambah menyelip. Aku melewati sekolahmu lagi. Rasanya, seperti menapakimu di setiap detiknya, merasakan langkahmu di setiap pagi saat kamu menuju sekolah atau saat kamu terkikik dengan teman-temanmu. Suaranya melesat jauh di dalam telinga, lalu tiba-tiba meledak dan pudar saat aku memalingkan wajah menatap jalanan yang merayap. Aku tercelus, mataku bernapas di antara harapanku sesekali bertemu denganmu lagi. Saat malam menghujani deretan rumah padat di bawah jembatan-jembatan berukir semen hijau, aku harus kembali ke rumah. Lampu-lampu di bawah sana redup, jalanannya kelam dan sempit, namun di sini gemerlap malam mengepulkan jantung kota yang tak berhenti berdetak. Kendaraan berdengung tanpa henti. Bagaikan berada di tepi dunia yang berb...