Tumbang


Lima tahun lalu, tumbuh sebuah makhluk dalam ketinggian dua kaki di sini, tepat di depan rumah sebuah keluarga yang hangat. Tak berbunga, tak berbuah, namun setiap orang bergeming menunggu perkembangannya. 

Hari demi hari, aliran air mengitari akarnya, jatuh menetes di seiap helai daunnya. Ia pun tumbuh dewasa. Kuat, besar, bak benteng yang memberi perlindungan nantinya. Benar saja, ketika hujan deras turun, angin melambaikan kawan di sekitarnya, hingar bingar ia tertabrak. Walaupun demikian, serdadu daunnya tetap kekar melawan. Ia tangguh.

Saat sinar surya menembus awan, ia merasa hidup. Rambatan lurus sinar itu ia rasakan untuk menyentuh lembut wajah-wajah yang melihatnya. Kehijauannya memantul tepat pada mata-mata berkaca yang mengaguminya. Ia indah.

Suatu hari, jenuh pada inti dirinya membuatnya merusak kelembutan dalam ranting-rantingnya. Jenuh itu terasa pada seseorang yang telah merawatnya sekian lama. Entah bagaimana, membuat ia meringis kesakitan. Meringis dalam diam. Ia memilih untuk melepaskan semua ingatannya pada manusia yang sangat memujanya. Ia sekarang telah mati sejak dua hari lalu. Bagian tubuhnya berserakan dan akhirnya akan menjadi tanah. 

Dunia terasa lebih terbakar dalam rumah keluarga itu. Semua mata dapat terjerat dalam lekukan berharganya. Mereka sekarang hanya menunggu mendapatkan perlindungan yang baru.

[h.h.]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekelibat Napas Yogyakarta