Ketika Mata Itu Tersenyum
Kadang kala, ketika dua insan bertemu, mereka menyapa. Suatu saat, mereka akan merasakan kehadiran satu sama lain dan berbicara. Kata per kata yang terucap terkadang terikat, terkadang terlepas. Suara yang mengayunkan nada di masing-masing telinga hanya kandas di tengah noda yang terbilas tanah. Ketika suara itu hilang, atau ketika suara itu hanya senyap terdengar, mereka pergi.
Atau suatu hari, dua insan saling bertemu kembali. Mereka tidak menyapa, namun mereka berjanji tanpa arti. Salah satunya berucap inilah makna dari sebuah alunan lembut tanda mereka bergembira. Salah satu memegang ikrar suatu saat dia akan bergerak di antara gerai angin yang tersapu langit siang dan malam. Kalimat itu tersimpan lebih keras ketika malam tiba, namun terdengar rintih ketika pagi kembali. Namun, ketika langkah keduanya mulai beriak, semua mulut akan tertawa, seakan puas terhadap malam yang dengan gegabah menjadi sunyi. Di antara mereka, ada satu yang terasa lugu dan merasa tertendang halus oleh waktu.
Atau kadang kala, ketika waktu yang berjalan membuat dua insan lainnya berdiri di atas sangkar mereka masing-masing. Merasa sendiri, mereka berjalan, mencoba mengarungi aliran hiruk-pikuk manusia yang merasa bersama. Ketika mereka bertemu, mereka terdiam. Tetapi ketika sudah terlalu lambat waktu berbicara, mereka hanya menatap bisu. Sampai ketika mereka kembali melangkah sembari menata rasa yang terukir kasar. Tanpa sadar, mereka masuk di dalam dinginnya sendu kesepian. Mereka melampaui sentuhan manis ketika takdir hanya menjentikkan jari, sadar akan rasa hangat mata yang saling tersenyum.
[h.h.]
Atau suatu hari, dua insan saling bertemu kembali. Mereka tidak menyapa, namun mereka berjanji tanpa arti. Salah satunya berucap inilah makna dari sebuah alunan lembut tanda mereka bergembira. Salah satu memegang ikrar suatu saat dia akan bergerak di antara gerai angin yang tersapu langit siang dan malam. Kalimat itu tersimpan lebih keras ketika malam tiba, namun terdengar rintih ketika pagi kembali. Namun, ketika langkah keduanya mulai beriak, semua mulut akan tertawa, seakan puas terhadap malam yang dengan gegabah menjadi sunyi. Di antara mereka, ada satu yang terasa lugu dan merasa tertendang halus oleh waktu.
Atau kadang kala, ketika waktu yang berjalan membuat dua insan lainnya berdiri di atas sangkar mereka masing-masing. Merasa sendiri, mereka berjalan, mencoba mengarungi aliran hiruk-pikuk manusia yang merasa bersama. Ketika mereka bertemu, mereka terdiam. Tetapi ketika sudah terlalu lambat waktu berbicara, mereka hanya menatap bisu. Sampai ketika mereka kembali melangkah sembari menata rasa yang terukir kasar. Tanpa sadar, mereka masuk di dalam dinginnya sendu kesepian. Mereka melampaui sentuhan manis ketika takdir hanya menjentikkan jari, sadar akan rasa hangat mata yang saling tersenyum.
[h.h.]
Komentar
Posting Komentar