Berjarak Setahun

        Waktu itu rasanya aku hanya bergeming. Rasanya konyol juga kalau harus menyingkap seseorang yang bahkan batang hidungnya saja tak pernah muncul bercerita. Tapi dari jauh sini, diamnya seperti sejumlah kata yang tumpah seakan berbicara. Diamnya mengatup senyumku untuk mengerti, bahwa dia orang yang sama yang aku temui setiap pagi di sana. Atau terkadang, aku bertemu dengannya di jalan paling sempit berhimpitan dengan manusia-manusia asing saling bergandengan, gegap gempita. Lucu juga kalau mengingat, ada hal yang akan aku sampaikan kalau langkah kita yang sebelumnya paralel menjadi mengerucut. Tapi ternyata dalam setahun, asa berubah jadi senyap, bahkan langkahku sempat tercelus karena berat. Dia berada di sana, dalam seratus potret yang rasanya bersuara keluar-masuk mata yang tak henti-hentinya berkedip: setengah kecewa, setengah tertawa. Setengah tahu bahwa semua sudah ada pada tempatnya, tapi setengahnya lagi tak berpeta. Pada akhirnya, aku lagi yang harus mengalah pada amarah, karena dia membuatku merasa berlari di tempat yang sama, tak kunjung sampai mana-mana. 

        Hanya jika aku berandai dan menginginkannya untuk membuka mata, mungkin akan lebih baik jadinya, setidaknya pada luarnya. Setahun yang pahit, setahun yang juga hambar. Aku lebih banyak menelan sumpah serapah untuk diri yang tak pernah berlabuh dan rasanya akan karam. Heran, padahal aku pikir aku masih setangguh sebelumnya, tapi manusia ini membuatku lupa untuk meneguk rapuh dan luka. Dulu aku pikir yang bergeming akan berdua, tapi nahasnya harus aku saja. []


h.h.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekelibat Napas Yogyakarta